Umi Bukan Ibu yang Biasa
Bismillahirrahmanirrahim.
Tujuh belas tahun yang lalu seorang bayi mungil keluar dari dalam perut seorang ibu yang sangat istimewa, ya, itu aku. Ibu dibantu oleh dokter kandungan dan para suster berusaha mengeluarkan aku. Oh iya, aku memanggil ibu dengan sebutan umi. Saat aku bertanya kepadanya, "Mi, kenapa aku gak manggil umi dengan sebutan mama atau ibu atau gak bunda?" umi malah menjawab, "Kalau dipanggil mama nanti tertukar sama mamanya Bintang. Kalau ibu nanti tertukar sama ibunya Laras. Dan kalau bunda nanti tertukar sama bundanya Danti". Aku hanya tertawa mendengar jawabannya.
![]() |
| source : pinterest |
Umi bukanlah seorang ibu rumah tangga yang setiap hari selama 24 jam ada di rumah. Dia bekerja menjadi guru SMA. Sungguh pekerjaan yang mulia, bisa mengajarkan tentang agama kepada anak-anak muridnya yang beranjak dewasa dan seumuran denganku. Umi berangkat kerja dengan waktu yang sama seperti anak-anak sekolah, melakukan aktivitas pun di sekolah. Dulu saat aku SD, aku pernah menangis karena sesampainya di rumah saat pulang sekolah, pintu masih terkunci. Aku menangis dengan pikiran 'Mengapa umi tidak seperti ibu-ibu lainnya?', disaat anaknya pulang ada di rumah, dan menyambut kedatangan anaknya.
Semakin aku beranjak dewasa aku mengerti apa yang dikerjakan orang tuaku. Umi termasuk seorang ibu yang sangat protektif bagiku. Setiap pagi membangunkanku dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar sambil memanggil namaku untuk segera shalat subuh dan persiapan untuk berangkat sekolah. Saat dulu aku di asrama pun, walaupun hanya bertemu seminggu sekali setiap kamis sore dan jumat pagi, umi juga memperhatikanku. Tetap sama membangunkan dengan mengetuk pintu serta memanggil nama. Kadang karena aku terlalu lelah sekolah selama seminggu kurang sehari di asrama, umi juga sangat memperhatikanku.
Terlebih saat aku sakit. Aku mempunyai sakit saraf terjepit, jadi saat aku mengikuti perpisahan SD dan saat itu di kolam pemandian air panas, aku terpeleset karena lantai yang licin. Dan saat itu aku tidak didampingi orang tuaku. Alhasil aku mengalami gangguan saraf dibagian pinggul kanan ku. Saat aku bercerita seperti itu umi meminta maaf kepadaku karena saat itu tidak ikut mengantarku perpisahan. Saat aku terserang demam pun umi yang paling panik karena aku harus sampai ke ugd hanya untuk di uap, karena penyebab demamku yang tinggi diakibatkan karena pilek yang parah dan dahak yang susah keluar. Sampai-sampai umi membeli alat uap sendiri, untuk berjaga-jaga kalau aku terserang demam lagi. Memang rasa cinta seorang ibu sangat besar kepada anaknya.
Saat ini aku sudah duduk dibangku SMA lebih tepatnya di semester terakhir masa SMA. Aku pindah sekolah dari pesantren dulu ke sekolah negeri di mana tempat umi mengajar. Jadi sekarang umi berangkap profesi bukan hanya seorang ibu rumah tangga bagiku tetapi guruku di sekolah. Seharusnya karena kini aku sudah satu sekolah dengan umi, aku akan memboncengi umi di motor tetapi ini tidak.
"Mi, ayo pulang bareng, aku boncengin" ajakku.
"Nggak ah, nanti kalau kamu pinggangnya sakit lagi gimana? Umi gak tega denger kamu nangis saat diurut". jawabnya.
Ya, itulah jawabannya setiap aku mengajaknya pulang, dan dia lebih memilih naik ojek dibanding aku, huhuhu.
Akhir-akhir ini aku lagi belajar dandan, dan kemarin saat ada undangan pernikahan, umi memintaku untuk di dandani aku hanya tertawa, karena aku baru sekali belajar make up, dan itu untuk foto buku tahunan siswa. Alhasil sebelum ia berangkat aku mendandaninya.
"Mi, maaf ya kalau jelek".
"Sudah gapapa". Lalu ku poles wajahnya yang sudah keriput itu dengan macam-macam make up. Sampai akhirnya pada alis.
"Mi, ini alis umi bentuknya seperti apa ya? Nggak kelihatan, alisnya tipis banget, terlalu turun ke mata. Ih aku bingung".
"Yaudah kamu usahain supaya umi punya alis".
"Kan udah ada alisnya, ih ini gimana ya?" ujarku sambil berusaha membentuk alis dan menebalkannya. Setelah beberapa kali dengan hati-hati aku berusaha membentuknya dan akhirnya jadi.
"Nah sudah selesai dan sekarang umi punya alis, hahaha".
Setelah dandan selesai umi memakai kerudung, dengan berusaha menghiasnya.
"Hahaha, sudahlah mi, pakai kerudung seperti biasa saja kasihan abah menunggu lama".
Akhirnya setelah berdandan lama, umi dan abah berangkat.
Aku ini termasuk anak yang jarang bercerita ataupun curhat ke umi. Aku anak yang tertutup dan pemalu saat di rumah. Ketika umi menasehati atau mengingatkan sesuatu aku hanya diam saja mendengarkan, lalu bergerak sesuai apa yang di perintahkan. Dan aku ini termasuk anak yang agak takut kepadanya.
Umi kadang tidak memperbolehkanku untuk pergi bersama teman-temanku, pulang harus tepat waktu, dan tidak boleh pergi lama. Sampai kemarin ketika aku ingin reuni, saat itu jam 10 pagiaku izin ke rumah temanku, tempat reuni. Umi bertanya seakan mengintrogasiku. 'Temannya cewek atau cowok?' 'berangkat sama siapa?' 'sampai jam berapa? jangan lama-lama, sampai jam dzuhur saja cukup.' Dan banyak sekali hal lain, yang menurutku setiap menjalaninya harus terbawa beban.
Tetapi semua ketakutan atau beban itu kujalani karena ku tahu tidak akan ada larangan tanpa kekhawatiran serta kasih sayang ibu. Banyak hal yang umi jaga demi aku :
- Umi masih takut untuk melepas anak perempuannya ini pergi sendiri, dengan orang yang dia tidak kenal ataupun tidak sukai padahal itu teman dekatku.
- Umi menolak untuk dibonceng olehku saat berangkat ataupun pulang sekolah dengan alasan takut penyakitku kambuh lagi.
- Umi yang selalu berbicara dengan nada tegas karena tak ingin anaknya manja dan lemah.
Dan seterusnya, masih banyak lagi yang tidak bisa ku ceritakan. Umi ku memang beda, bukan seperti ibu-ibu biasanya, umi tidak jago memasak, umi jarang di rumah, umi tidak bisa menyetir motor dan lain-lain, tetapi umi ibu yang kuat bisa mengurus keluarga sekaligus menjadi guru di sekolah. Umi pantang menyerah, dia rajin belajar memasak sampai rasanya nikmat. Umi selalu mengingatkan shalat, mengaji, dan berbuat tepat menurut ajaran Allah swt. Maka dari itu bukan hanya aku, tapi kita semua, siapapun yang membaca ini kita haruslah hormat dan sayangi ibu, sebagaimana Allah swt. berfiman
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
“dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam : 32)
Jadi umi bukanlah ibu biasa, umi adalah ibu yang luar biasa. Semua yang ku lakukan, pelajaran hidup yang ku dapat, berawal dari umi, seorang ibu yang masih sabar mengurus anak remajanya ini. Semua ini karena umi, karena ibuku tercinta ini. Terimakasih umi.
Artikel ini kupersembahkan kepada umiku, serta ibu kalian. Dan artikel ini juga termasuk salah satu artikel yang kubuat untuk mengikuti lomba blog Saliha.id.
Alhamdulillahirrabil'alamin.



Really? You made this?
BalasHapusOh i'm touched
Yeah, i made this :') thankyou
HapusWah ada nama akunyaa
BalasHapusHehehe pinjam ya :)
HapusPanutanq wkwkwk. Bagus banget kak
BalasHapusHehehe, makasih ninda :)
Hapus